Kultum Ramadhan 1439 H 

Pernahkan kita berfikir bahwa dengan ibadah ini kita memang bekerja untuk Allah (yang kita sebut lillahi ta’ala)? Di mana manfaat dan hasil kerja kita itu memang dimiliki oleh Allah?

ternyata, itu tidak dan sama sekali tidak….

Allah Maha Agung dan tidak membutuhkan apa-apa dari kekerdilan kita. Allah Maha Besar dan tidak memerlukan manfaat apa pun dari kelemahan kita. Allah Maha Tak Terhingga dan sama sekali tidak memiliki ketergantungan apapun kepada ketololan kita.

Manusia hendaknya tahu diri, belajar bertawadldlu’ dan mencoba mengenali rahasia-rahasia firman-Nya, atau yang kalau memakai bahasa keduniaan manusia: mengenali retorika dan diplomasi-Nya. Jangan sekali-sekali kita terjebak dalam kedunguan dan membayangkan .Allah merniliki kepentingan atas kehidupan dan segala pekerjaan kita. Allahu Akbar, Allah Maha Besar, dan oleh karena itu walillahil-hamd, hanya bagi-Nya segala puji.

Dengan kata lain, manusia jangan “Ge-Er”. jangan pernah berpikir bahwa Allah memiliki kelemahan, kehausan atau kelaparan sehingga meminta manfaat dari hamba-hamba-Nya.

Kalau Allah mengatakan bahwa ibadah puasa itu khusus bagi-Nya, kita bisa membaca maksud di balik “retorika pergaulan”-Nya bahwa betapa ibadah puasa itu sangat penting dan memiliki makna khusus bagi manusia. Betapa Allah sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang bersedia, berlatih dan memiliki kesanggupan menahan diri.

Bahwa puasa adalah sebuah rnetoda kedisiplinan yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari, baik ketika mengurusi masalah-masalah kecil di rumah tangganya maupun masalah-masalah besar dalam masyarakat, negara, dan dunianya.

Seperti apakah harusnya kita memahami ibadah yang kita lakukan, berikut sedikit pemahaman tentang ibadah yang bisa kita renungkan bersama.

  1. Ibadah adalah kebutuhan Rohani

Setiap manusia tersusun atas tiga unsur; jasmani (pisik), akal dan rohani (hati). Ke tiga unsur ini masing-masing memiliki kebutuhan. Jasmani kebutuhan pokoknya adalah makanan dan minuman, akal kebutuhan pokoknya adalah ilmu, dan rohani kebutuhan pokok yang sesungguhnya adalah ibadah. Jika ada salah satu unsur yang tidak terpenuhi kebutuhannya sudah barang tentu manusia seperti itu akan mengalami masalah dan kepincangan dalam kehidupannya, yang paling ringan adalah akan terserang penyakit dan yang paling berbahaya adalah kematian. Jasmani yang jarang dipenuhi kebutuhannya pada awalnya tubuh akan lemah, berikutnya adalah penyakit yang biasanya diberi pertolongan pertama dengan infus sebagai pengganti sementara makanan, dan jika tidak ditangani serius bisa berakhir dengan kematian. Demikian juga akal, jika kebutuhannya tidak dipenuhi berupa ilmu-ilmu yang benar dan bermanfaat, maka akibatnya adalah kebodohan, bahkan sekalipun akal dipenuhi dengan ilmu tetapi ilmu yang tidak benar, maka akibatnya adalah kesesatan.

Nah, jika jasmani dan akal bisa sakit dan bisa mengalami kematian. Maka semestinya juga harus dipahami bahwa rohani sebagai satu unsur penting dalam tubuh manusia bisa menderita berbagai penyakit, bahkan bisa mengalami kematian. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan dalam firmanNya yang artinya: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” (QS. Al-Baqarah: 10).

Wahab bin Munabbih Rahimahullah mengemukakan satu kalimat sindiran: “Sungguh mengherankan mereka yang menangisi orang yang telah mati jasadnya, tetapi mereka tidak menangisi orang yang telah mati hatinya padahal matinya hati lebih bahaya dari matinya jasad”.

  1. Konsekwensi memilih Islam sebagai Agama adalah beribadah.

Hidup ini adalah pilihan-pilihan, dan setiap pilihan ada konsekwensi-konsekwensinya. Memilih Islam sebagai agama dan jalan hidup memiliki konsekwensi yang sekaligus menjadi identitas penganut agama Islam. Konsekwensi utama penganut agama Islam adalah beribadah kepada Allah Ta’ala saja. Diantara bentuk ibadah yang paling menonjol dalam Islam yang dijadikan oleh Rasulullah sebagai pembeda antara Muslim dengan kafir adalah menegakkan shalat. Dalam hadits dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, no. 257)

Selain menegakkan shalat sebagai ibadah utama setiap Muslim, masih ada konsekwensi lain dari konsekwensi sebagai penganut setia Islam, yaitu puasa, haji, zakat dan kewajiban- kewajiban lainnya yang jika filosofi ini dipahami maka tidak ada lagi yang memandang ibadah sebagai beban yang memberatkan tapi dengan ikhlas kita menjalankan ibadah pada Allah sebagai kebutuhan utama.

  1. Ibadah mendatangkan manfaat.

Telah banyak hasil penelitian ilmiah yang dipublis di berbagai media cetak dan elektronik tentang berbagai manfaat ibadah dalam kehidupan. Diantaranya dilakukan oleh Dr. Abdurrahman Al-Umari, ia menemukan beberapa rahasia dan manfaat shalat baik ditinjau dari kesehatan fisik maupun batin.

Beliau mengatakan: Seorang yang senantiasa melaksanakan shalat akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman dalam jiwa. Kondisi jiwa yang tenang dan tenteram akan sangat berpengaruh terhadap keseimbangan produksi hormon dalam tubuh. Kesimbangan ini akan membuat organ tubuh seseorang bekerja dengan baik. Kondisi seperti ini akan memperlambat proses penuaan yang terjadi pada organ tubuh. Ini berarti shalat merupakan resep awet muda.

Sementara itu Dr. Faris Aazuri ahli penyakit urat syaraf dan persendian yang bekerja di salah satu universitas di Amerika menyatakan: Sesungguhnya shalat yang dilakukan oleh kaum muslimin, yang di dalamnya terdapat gerakan rukuk dan sujud memiliki manfaat yang besar.

Kedua gerakan tersebut berfungsi untuk menguatkan punggung dan mampu melenturkan urat-urat yang ada di sekitar punggung. Hal ini akan lebih dirasakan manfaatnya jika seseorang melakukan shalat sejak usia dini.

Masih banyak hasil-hasil penelitian ilmiah yang menunjukkan manfaat puasa bagi penderita diabetes, manfaat wudhu bagi kesehatan kulit, manfaat membaca dan menghafal Al-Qur’an bagi kesehatan pisik, kecerdasan otak dan bermanfaat untuk mencegah penyakit pikun.

Pada akhirnya mari kita merubah paradigma berpikir tentang ibadah, dari ibadah sebagai beban menjadi ibadah sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan dunia dan akhirat kita.

 

Oleh Nurul Fatqi ,di ambil dari berbagai sumber, termasuk diskusi di teras masjid kampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *